Mas, Iblisnya Dua…

19Dec10

“Mas, Iblisnya dua…”

seru saya kepada seorang pramusaji di sebuah warung nasi goreng, pesanan yang membuat saya tidak mampu menahan tawa dan seorang nona manis di meja sebelah terlihat menunduk dengan sedikit senyum dikulum diujung bibir.

Malam ini, sambil menunggu pertandingan semifinal piala AFF antara Indonesia dan Filipina saya mencari makan. Hisyam yang tadinya berniat untuk nitip makanan kepada saya dengan berat hati ikut saya culik juga untuk menemani  saya makan. Tadinya saya ingin menyantap sepiring penuh cumi tepung namun ternyata warung tersebut tutup. meskipun kecil, ada kemungkinan bahwa pemilik warung tidak ingin melewatkan kesempatan mendukung timnas garuda dan ikut berangkat ke Senayan untuk mendukung timnas… -.-” *malah ngelantur*

Akhirnya motor saya pacu menuju kampus Unair, menuju Jalan Srikana. Lagi-lagi dikarenakan saya tidak kuat mendengar bisikan iblis teman-teman kampus sebelah, saya merelakan mililieter terakhir bensin saya untuk mencapai kawasan unair. Warung ini berlokasi di jalan Srikana sisi selatan, berlokasi di kiri jalan jika kita masuk dari arah Barat. Terletak tidak jauh dari sebuah minimarket waralaba yang terletak di pojok pertigaan.

Setelah sempat memutari jalan Srikana dua kali, dengan usaha yang gigih dan hati yang ikhlas, saya berhasil menemukan tempat yang dimaksud. Sebenarnya sih sudah putus asa dan hendak balik ke ITS, tapi saya coba untuk bertanya kepada teman dan akhirnya saya berhasil menemukan warung yang dimaksud.

Sebuah tenda hijau besar, menutupi ujung gerobak hingga mencapai tanah, bercat hitam kasar bertuliskan NASI GORENG JAWA PAPI KANCIL menyembunyikan warung tersebut dari luar. Ketika saya menjamah menu, terlihat beberapa pilihan menu nasi goreng, bakm dan lainnya, diantaranya ada nasi goreng ikan asin, hati ayam, krengsengan, sosis, babat, ayam, tempura, babat sosis dan yang terakhir, IBLIS

wow… bagi orang berpikiran-jenius eperti saya, mendengar kata-kata nasi goreng iblis, pastilah di pikirannya akan muncul beberapa hipotesa logis :

1.  Nasi  goreng ini ditujukan untuk konsumen bangsa Iblis

2. Nasi goreng yang dibuat dengan menggunakan buah zaqqum

3. Nasi goreng yang dibuat dengan daging iblis

4. Semua jawaban benar

Hohoho… ternyata semua pilihan di atas salah, Nasi goreng Iblis ini merupakan nasi goreng jawa, sebutan untuk genre nasi goreng ala lamongan di kawasan Surabaya, dimana dijumpai tauge sebagai sayur dan irisan dagung ayam plus acapkali irisan telur rebus. Yang membuat makanan ini dianugerahi nama makhluk terkutuk tersebut adalah rasanya yang sangat pedas, mirip dengan nasi goreng j*ncuk, yang lain kali akan saya ceritakan. Hanya saja porsinya masih manusiawi untuk disantap seorang manusia normal, tidak seperti nasi goreng *ancuk yang porsinya cukup untuk anda buat syukuran setelah kelompok anda berhasil dengan gemilang mengulang praktikum jaringan komputer.

Beberapa menit kami menunggu pesanan kami. Selama itu, sering tercium aroma pedas yang menusuk hidung, yang memacu rasa penasaran saya mengenai betapa pedasnya makanan ini. Meskipun saya pribadi tidak suka dengan makanan pedas (meskipun tidak separah kakak saya), namun untuk beberapa makanan yang memang tercipta pedas, saya masih menyukainya. Namun tidak dengan penambahan cabai pada hidangan yang lain, karena menurut saya rasa pedas hanya akan merusak rasa makanan. Bagaimana tidak? semahal ataupun seenak apapun masakan yang anda beli, jika bumbu satu ini sudah ditambahkan, hanya rasa pedas yang dominan muncul.

Selang beberapa waktu, mas  pramusaji mengantarkan pesanan kami, 2 piring Iblis Spesial (pake telor) disertai sepiring kerupuk serta 2 gelas es teh penawar iblis. Sendokan pertama, memang rasa pedas yang dominan muncul, namun ternyata, bumbu nasi goreng yang legit masih terasa, dan pedasnya ternyata tidak seperti yang saya bayangkan, pedas yang menusuk namun masih cukup bersahabat, yang ternyata hilang dengan seteguk es teh manis. Mungkin ada kaitannya dengan melambungnya harga cabai belakangan ini, dimana harga cabai sekilo mampu melebihi harga 2 kilo ayam. Meskipun demikian, keringat tak henti bercucuran dari kepala saya, dan dalam waktu yang cukup singkat sepiring nasi goreng tersebut telah ludes. Yang mengherankan bagi saya, rekan saya nampak santai2 saja menyantap hidangan ini, tidak berkeringat sedikitpun bahkan menyantap 7 biji cabai hijau besar selama menyantap nasi gorengnya, ckckckck…

Total kerusakan yang kami timbulkan harus kami tebus dengan 17 ribu rupiah, cukup murah bukan? selamat mencoba🙂

NB : lagi-lagi tidak ada skrinsyut, karena sang iblis keburu nonton pertandingan semifinal Piala AFF😐

next time akan saya tampilkan… *insya Allah*🙂

satu lagi, tulisan dibuat dengan sisa-sisa energi penulis, menahan untuk kembali ke tolilet untuk kelima kalinya, karena jika sampai terjadi, saya harus merelakan sebuah piring cantik… memang acapkali bibir saya mampu menahan pedasnya makanan, namun tidak demikian dengan perut saya T_T

Update :

Beginilah penampakan sang iblis. Sempurna menggoda dengan bulatan telur dadar utuh sempurna.

 

Penampakan Iblis

 

 



4 Responses to “Mas, Iblisnya Dua…”

  1. wah baru tauuuuuuuuuuu. Ada nasi goreng iblisssss

  2. mosok sih baru ngerti mbak? enak tapi murus -___-“

  3. 3 icub

    pesen tapi wong e lali wkwkwkw…


  1. 1 Menyerah Kepada Iblis « halfmadness

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: